Eksistensi.id, Samarinda – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Muhammad Samsun, menyerukan transformasi sektor pertanian agar tak hanya bertahan sebagai penyedia pangan, tetapi juga berkembang menjadi tulang punggung ekonomi daerah yang menjanjikan kesejahteraan.
Samsun menyampaikan pandangan bahwa pertanian di Kaltim memiliki potensi besar untuk menjadi sektor strategis. Namun, selama ini belum didorong secara maksimal dengan pendekatan modern dan dukungan kebijakan yang memadai.
“Pertanian itu bukan sektor sisa. Ini sektor strategis yang bisa menopang ekonomi daerah, asalkan digarap secara serius. Kita punya sumber daya alam dan pasar tinggal bagaimana pengelolaannya,” ungkapnya.
Politisi dari PDI Perjuangan itu menyoroti rendahnya pendapatan petani sebagai hambatan utama dalam menarik minat generasi muda ke dunia pertanian.
Menurutnya, profesi petani harus mampu menjanjikan penghasilan yang layak agar tidak terus ditinggalkan.
“Kalau pendapatan petani bisa konsisten di angka Rp10–20 juta per bulan, itu akan jadi daya tarik tersendiri. Ini soal kepastian hidup, bukan sekadar minat,” tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga hasil pertanian. Tanpa itu, katanya, petani akan terus berada di posisi rentan, terutama saat menghadapi fluktuasi pasar.
“Kebijakan harga harus memihak petani. Jangan sampai ketika panen melimpah, harga anjlok dan petani merugi. Ini masalah klasik yang harus segera diatasi,” tambahnya.
Di level kebijakan, Samsun menegaskan DPRD Kaltim berkomitmen untuk memperjuangkan regulasi yang memperkuat posisi petani, termasuk dalam hal permodalan, akses pasar, dan pendampingan teknologi pertanian.
“Kita dorong pertanian yang modern, efisien, dan punya nilai tambah. Kalau ini terwujud, bertani bukan lagi pilihan terakhir, tapi justru pilihan masa depan,” jelasnya.
Samsun juga menilai bahwa transformasi pertanian bukan semata tanggung jawab petani, melainkan harus menjadi komitmen bersama lintas sektor. Dengan kolaborasi pemerintah, legislatif, dan masyarakat, ia optimistis pertanian Kaltim bisa naik kelas.
“Ini soal masa depan. Pertanian bukan hanya urusan tanah dan panen, tapi tentang keberlanjutan ekonomi dan ketahanan pangan kita ke depan,” tutupnya.(ADV)
Penulis : Nurfa | Editor: Redaksi eksistensi