Eksistensi.id, Samarinda — Sekretaris Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Darlis Pattalongi, melontarkan kritik tajam terhadap Pemerintah Provinsi Kaltim atas minimnya perhatian terhadap SMAN 4 Samarinda.
Sekolah yang telah berdiri lebih dari empat dekade di kawasan Rapak Dalam, Loa Janan Ilir, disebut belum pernah mendapat alokasi dana pembangunan dari APBD Kaltim sejak awal berdiri.
“Ini bukan hanya soal bangunan sekolah. Ini soal keadilan. Bagaimana mungkin sekolah negeri di ibu kota provinsi tak pernah sekalipun disentuh APBD?” kata Darlis, Kamis (26/6/25).
Ia menyebut kondisi SMAN 4 mencerminkan ketimpangan nyata dalam distribusi fasilitas pendidikan di Kaltim. Menurutnya, meski berada di wilayah administratif kota, sekolah tersebut seperti luput dari perhatian pemerintah karena letaknya di pinggiran.
“Sekolah-sekolah di pusat kota bisa punya gedung bertingkat, laboratorium lengkap, bahkan aula modern. Tapi di SMAN 4, ruang belajar yang layak saja sulit ditemukan. Ini bentuk ketimpangan struktural yang tak boleh dibiarkan,” tegasnya.
Darlis juga menyoroti faktor geografis sebagai salah satu penyebab SMAN 4 tertinggal. Terletak di kawasan rawa dan permukiman padat, sekolah ini kerap dianggap tidak strategis.
Namun menurutnya, justru lokasi semacam itu membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih inovatif.
“Bukan berarti karena rawa, lalu dibiarkan. Gunakan konsep bangunan panggung. Jangan paksa bangun dengan timbunan tanah yang akan amblas. Pemerintah harus beradaptasi, bukan mencari alasan,” jelasnya.
Ia mendorong agar pembangunan SMAN 4 dimasukkan ke dalam prioritas anggaran dalam APBD Perubahan 2025. Darlis menegaskan bahwa sudah saatnya ratusan siswa dan guru di sekolah tersebut mendapatkan fasilitas yang layak seperti sekolah negeri lainnya.
“Mereka sudah terlalu lama menunggu. Ini bukan soal satu sekolah, tapi soal bagaimana negara hadir dalam menjamin pemerataan akses pendidikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Darlis mengingatkan bahwa komitmen membangun sumber daya manusia yang unggul hanya akan menjadi slogan kosong jika pemerintah terus abai terhadap sekolah-sekolah di pinggiran.
“Kalau kita mau SDM Kaltim maju, jangan hanya bangun yang sudah bagus. Yang paling tertinggal justru harus jadi prioritas. Pendidikan harus merata, tidak boleh eksklusif untuk sekolah favorit saja,” pungkasnya.(ADV)