Eksistensi.id, Samarinda – Meningkatnya angka bunuh diri di Samarinda menjadi alarm keras bagi semua pihak. DPRD Kota Samarinda menilai fenomena ini bukan hanya persoalan individu, tetapi cerminan lemahnya perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menegaskan perlunya membangun ekosistem pencegahan yang melibatkan keluarga, lingkungan sosial, hingga pemerintah.
Menurutnya, dukungan dari lingkar terdekat menjadi pondasi utama agar seseorang tidak terjerumus dalam krisis yang berujung fatal.
“Orang tua berperan penting dalam memberikan dukungan, membangun ketahanan mental, dan menanamkan nilai hidup yang positif. Lingkungan sekitar juga harus lebih peduli dan responsif, sementara pemerintah wajib menyediakan layanan kesehatan mental yang terjangkau,” kata Puji, Senin (11/8/2025).
Puji menjelaskan, krisis psikologis sering kali tak tampak dari luar. Banyak individu yang terlihat baik-baik saja, namun sebenarnya menyimpan beban berat.
“Kasus bunuh diri kerap menimpa mereka yang tampak normal di mata lingkungan. Ini artinya kepedulian sosial masih lemah,” tegasnya.
Untuk langkah konkret, ia mendorong pemerintah melakukan pemetaan penyebab melalui survei, termasuk faktor ekonomi, relasi personal, hingga kehilangan pekerjaan. Hasil pemetaan ini, katanya, penting untuk merumuskan kebijakan pencegahan yang tepat sasaran.
Selain itu, ia menekankan pentingnya media massa sebagai sarana edukasi publik. Media, menurutnya, bisa menghadirkan analisis para psikolog, akademisi, dan praktisi agar masyarakat mendapat pemahaman komprehensif mengenai kesehatan mental.
Puji juga mengusulkan agar layanan konseling lebih mudah diakses, baik di puskesmas maupun lembaga sosial yang bergerak di bidang pengasuhan dan parenting.
“Kolaborasi dengan yayasan atau lembaga yang fokus pada kesehatan mental perlu diperluas. Dengan begitu, masyarakat memiliki tempat untuk mencari bantuan ketika menghadapi tekanan hidup,” pungkasnya.(ADV)