Eksistensi,id, Samarinda — Skema pengelolaan aset Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Varia Niaga menuai kritik keras dari DPRD Kota Samarinda. Bagaimana tidak lahan milik pemerintah, dibangun menggunakan anggaran APBD, namun daerah hanya mengantongi sekitar 10 persen dari hasil pengelolaannya.
Ketua Pansus LKPJ DPRD Samarinda, Ahmad Sukamto, menyebut kondisi itu tidak masuk akal dan harus segera dibenahi. Persoalan ini mengemuka dalam pembahasan kinerja Varia Niaga pada Selasa (28/4/2026), seiring dengan rendahnya kontribusi perusahaan daerah tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Berdasarkan laporan LKPJ 2025, Varia Niaga hanya menyumbang PAD sekitar Rp500 juta — angka yang oleh legislatif dinilai jauh dari mencerminkan potensi aset yang dimiliki.
“Di laporan LKPJ 2025, PAD yang disumbangkan hanya sekitar Rp500 juta. Itu sangat kecil,” ujar Ahmad Sukamto.
Yang lebih mengganjal bagi DPRD adalah skema kerja sama yang berjalan saat ini. Aset milik pemerintah yang dibangun dari APBD diserahkan pengelolaannya ke pihak lain, sementara daerah hanya mendapat porsi 10 persen.
“Kalau lahannya milik pemerintah, dibangun pakai APBD, tapi kita cuma dapat sekitar 10 persen, itu tidak masuk akal,” tegasnya.
DPRD mendorong perubahan mendasar pada skema tersebut — dari pola fee kecil menjadi sistem bagi hasil yang lebih adil dan transparan. Bahkan pembagian keuntungan hingga 50:50 disebut sebagai opsi yang layak dipertimbangkan.
“Ke depan harus diubah. Bisa bagi hasil, bukan sekadar fee kecil. Intinya harus menguntungkan daerah,” katanya.
Ahmad menegaskan, Varia Niaga sejatinya menyimpan potensi besar dalam pengelolaan aset strategis milik daerah. Namun potensi itu belum tergarap secara optimal akibat skema kerja sama yang tidak proporsional dan minimnya transparansi dalam perhitungan keuntungan.
Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kontrak kerja sama yang berjalan kini menjadi tuntutan legislatif, agar ke depan kontribusi Varia Niaga terhadap PAD Kota Samarinda benar-benar mencerminkan nilai aset yang dikelolanya.
“Potensinya besar, tapi belum tergarap maksimal. Harus ada perbaikan agar kontribusinya ke PAD bisa meningkat,” pungkas Ahmad Sukamto.(adv)






Users Today : 248
Users Yesterday : 342
Views Today : 564
Total views : 511586
Who's Online : 8
