Eksistensi.id, Samarinda – Tingkat keterisian kios di Pasar Pagi Samarinda menjadi perhatian DPRD Samarinda. Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, meminta data terbaru mengenai jumlah kios yang telah terisi dan masih kosong untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus menjadi dasar menentukan pola pengelolaan yang lebih efektif.
Dari sekitar 2.500 kios yang tersedia, hasil sidak sebelumnya menunjukkan sekitar 1.500 kios masih belum terisi. Namun, jumlah tersebut disebut mulai berkurang berdasarkan informasi terbaru. Karena itu, Iswandi menilai diperlukan data konkret untuk mengetahui perkembangan keterisian kios saat ini.
“Besok saya akan meminta data konkret untuk memastikan berapa jumlah kios yang sudah terisi dan yang masih kosong,” kata Iswandi, Kamis (3/9/26).
Menurutnya, persoalan keterisian kios tidak cukup dilihat hanya dari jumlah ruang yang telah ditempati. Di lapangan, terdapat pedagang yang memiliki dua hingga tiga kios di lantai berbeda, tetapi aktivitas penjualan pada masing-masing kios belum tentu berjalan.
Ia mencontohkan pedagang yang memiliki kios di lantai 5, 6, dan 7. Menurut Iswandi, tidak semua kios tersebut menghasilkan penjualan. Jika seluruh kios dipaksakan untuk dibuka secara bersamaan, pedagang justru dapat menghadapi tambahan beban operasional.
“Omzet dalam sehari bahkan belum tentu ada penjualan. Kalau dipaksakan membuka seluruh kios, tentu ada biaya yang harus dikeluarkan, minimal untuk membayar orang yang menjaga kios,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata Iswandi, perlu menjadi bahan evaluasi dalam menentukan pola pengelolaan Pasar Pagi. Pemerintah bersama pedagang perlu mencari pola yang memungkinkan ruang perdagangan tetap dimanfaatkan tanpa menambah beban yang tidak sebanding dengan pendapatan pedagang.
Salah satu opsi yang dapat dibicarakan adalah pengelolaan kios secara bersama. Pedagang dapat berunding untuk menggabungkan atau menyesuaikan pengelolaan beberapa ruang usaha sehingga tidak seluruh kios harus dibuka secara individual.
“Perlu dicari solusi bersama. Salah satunya bagaimana pedagang bisa berkumpul dan berunding untuk menyatukan pengelolaan kios, misalnya dua kios dikelola bersama atau dilakukan penyesuaian agar seluruh ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif,” jelasnya.
Iswandi menilai, persoalan Pasar Pagi tidak semata-mata mengenai seberapa banyak kios yang terisi. Yang lebih penting, ruang yang tersedia harus mampu menciptakan aktivitas perdagangan yang berjalan dan memberikan manfaat ekonomi bagi pedagang.
“Karena itu, data keterisian kios menjadi penting sebagai dasar untuk mengevaluasi kondisi pasar sekaligus menentukan langkah pengelolaan yang sesuai dengan kondisi nyata pedagang di lapangan,” tandasnya.(adv)







Users Today : 113
Users Yesterday : 273
Views Today : 188
Total views : 613720
Who's Online : 6
