Eksistensi.id, KUTIM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur mencatat 118 kasus malaria sepanjang Agustus hingga September 2026. Kecamatan Sandaran menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni mencapai 22 orang.
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah berlangsung berdekatan dengan kawasan hutan.
“Kasus malaria menjadi perhatian karena sejumlah wilayah Kutim memiliki aktivitas masyarakat yang berdekatan dengan kawasan hutan,” ucap Yuwana, Senin (21/9/26).
Data tersebut dihimpun Dinkes Kutim berdasarkan laporan dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan masyarakat selama periode Agustus-September 2026. Setiap temuan kemudian menjadi bahan tindak lanjut untuk mengetahui lokasi serta kemungkinan sumber penularan.
Wilayah Kutai Timur yang masih memiliki kawasan hutan cukup luas menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan. Yuwana menjelaskan, perubahan kawasan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun pembukaan perkebunan dapat memengaruhi keberadaan nyamuk penyebab malaria.
Menurutnya, ketika habitat nyamuk terganggu akibat pembukaan kawasan, nyamuk dapat berpindah mendekati permukiman warga.
“Kalau ada pembukaan lahan, sawit misalnya, atau memang hutan yang dibuka untuk perumahan, apalagi itu kan pasti nyamuknya kan lari semua dan orang yang di situ tadi akan tergigit,” ujar Yuwana.
Selain kondisi lingkungan, Dinkes Kutim juga menghadapi tantangan dalam menemukan kasus lebih awal. Masyarakat terkadang belum segera melaporkan atau memeriksakan diri ketika mengalami gejala malaria dan baru mendatangi fasilitas kesehatan setelah kondisinya memburuk.
Setelah menerima laporan dari rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan, petugas kemudian melakukan penelusuran epidemiologi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui asal penularan sekaligus memastikan kemungkinan adanya kasus lain di sekitar lokasi.
“Biasanya kan mereka tidak lapor. Tapi begitu sudah sakit, mau tak mau kan ke rumah sakit. Nah nanti dari rumah sakit, kami tindak lanjuti, kami kejar. Dia dapatnya dari mana, kita turun ke lapangan nanti, petugas surveillance epidemiologinya,” katanya.
Penelusuran di lapangan juga menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai penularan. Petugas berupaya mengetahui apakah terdapat penderita lain di sekitar lokasi yang sama.
Yuwana menerangkan, penularan malaria terjadi melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit seseorang yang telah terinfeksi. Parasit plasmodium kemudian dapat berpindah melalui gigitan nyamuk tersebut kepada orang lain.
“Begitu nyamuk ini sudah ngigit orang yang kena malaria, maka dia ngigit orang lain dipindahkan lah plasmodium-nya tadi. Plasmodiumnya pindah lagi, nular ke orang yang lain,” jelasnya.
Dinkes Kutim mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan wilayah yang sedang mengalami pembukaan lahan.(adv/Kutim/Nurfa)







Users Today : 51
Users Yesterday : 273
Views Today : 117
Total views : 625604
Who's Online : 2
