Eksistensi.Id, KUTIM – Pemerintah Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, terus memperkuat upaya penanganan stunting melalui pendataan, pemantauan kesehatan, serta pemberian intervensi gizi bagi ibu dan anak yang membutuhkan perhatian.
Langkah tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat masyarakat melalui kegiatan posyandu. Pendataan menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi ibu hamil, bayi, dan anak sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Kepala Desa Swarga Bara, Wahyudi Usman, mengatakan wilayahnya menjadi salah satu lokus penanganan stunting sehingga pemantauan terhadap kondisi ibu dan anak perlu dilakukan secara konsisten.
“Memang kita salah satu lokus stunting. Datanya cukup signifikan dan ini memang perlu menjadi perhatian,” ujar Wahyudi, Rabu (30/9/26).
Menurutnya, data stunting bersifat dinamis. Perubahan data tidak serta-merta menunjukkan kondisi yang memburuk, sebab anak yang telah mendapatkan penanganan dan dinilai tidak lagi berisiko dapat keluar dari pencatatan, sementara temuan baru dapat masuk dalam pemantauan.
“Kalau datanya bertambah, belum tentu berarti kondisinya semakin parah. Bisa saja yang sudah tertangani keluar, kemudian ada yang baru terdeteksi masuk,” katanya.
Karena itu, peran kader dalam melakukan pemantauan secara rutin menjadi bagian penting dalam upaya penanganan. Data yang diperoleh dari lapangan kemudian menjadi dasar untuk menentukan langkah intervensi sesuai kondisi yang ditemukan.
Intervensi tersebut antara lain dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pemberian vitamin. Kondisi anak juga dapat dievaluasi melalui pemeriksaan tenaga kesehatan untuk memastikan perkembangan dan kebutuhan penanganannya.
Wahyudi mengatakan penanganan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga perlu melihat kondisi keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh. Faktor ekonomi, pola pengasuhan, kondisi keluarga hingga lingkungan dan infrastruktur dapat menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Faktornya bisa ekonomi, kondisi keluarga, infrastruktur. Jadi memang semua harus terlibat,” ujarnya.
Selain intervensi gizi, pemerintah desa juga mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat. Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, kehamilan, kondisi setelah melahirkan, hingga pola pengasuhan dinilai penting agar keluarga dapat mengenali berbagai risiko kesehatan sejak dini.
Menurut Wahyudi, edukasi menjadi salah satu langkah preventif yang dapat diperkuat di tingkat masyarakat. Dengan pengetahuan yang memadai, keluarga diharapkan dapat lebih memahami kebutuhan kesehatan ibu dan anak serta mengambil langkah yang tepat ketika menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian.
Melalui pendataan, pemantauan, intervensi gizi dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, Pemerintah Desa Swarga Bara berupaya memperkuat perlindungan kesehatan ibu dan anak.
“Upaya tersebut diharapkan turut mendukung tumbuh kembang anak dan membangun generasi yang sehat sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia 2045,” tandasnya.(adv/Kutim/Nurfa)







Users Today : 330
Users Yesterday : 462
Views Today : 581
Total views : 631941
Who's Online : 3
