Eksistensi.id, KUTIM – Bibit kelapa sawit ilegal masih beredar di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Harga yang lebih murah dibandingkan bibit dari penangkar resmi menjadi salah satu alasan produk tanpa kejelasan asal-usul tersebut masih diminati petani.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutim, Juliansyah, mengatakan persoalan tersebut ditemukan dalam kajian pembibitan kelapa sawit yang dilakukan pihaknya.
Menurut dia, sejumlah penjual menawarkan bibit dengan klaim sebagai bibit unggul. Namun, petani tidak memiliki kepastian mengenai sumber benih maupun kualitasnya.
“Sekarang ini, khususnya di Sangatta, banyak penjual bibit ilegal,” kata Juliansyah, Rabu (7/10/26).
Peredaran bibit tersebut juga tidak hanya berlangsung secara langsung. Hasil identifikasi BRIDA menunjukkan bibit tanpa kejelasan asal-usul dan sertifikasi turut diperjualbelikan melalui platform daring.
Kondisi itu membuat petani perlu lebih berhati-hati sebelum membeli. Sebab, perbedaan harga yang terlihat saat transaksi belum tentu sebanding dengan hasil yang diperoleh ketika tanaman mulai menghasilkan.
Juliansyah mengingatkan petani agar tidak hanya mengejar harga murah ketika memilih bibit.
“Kalau bibitnya tidak jelas, kita tidak tahu nanti hasilnya seperti apa. Jadi petani harus mencari bibit yang benar-benar unggul,” ujarnya.
BRIDA menilai persoalan tersebut perlu diatasi dengan memperkuat pemahaman petani mengenai asal-usul dan mutu bibit.
“Dengan begitu, petani tidak mudah tergiur penawaran murah yang justru berpotensi menimbulkan kerugian setelah tanaman memasuki masa produktif,” tandasnya.(adv/Kutim/Nurfa)









Users Today : 373
Users Yesterday : 422
Views Today : 772
Total views : 637144
Who's Online : 2
