Eksistensi.id, Samarinda – Wabah demam berdarah dengue (DBD) kembali mencuat sebagai krisis tahunan di Kalimantan Timur. Anggota DPRD Kaltim, Damayanti, menyebut kondisi ini sebagai cerminan lemahnya budaya antisipasi dalam tata kelola kesehatan masyarakat, baik di tingkat pemerintah daerah maupun lingkungan warga.
Data terbaru yang diterima menunjukkan bahwa jumlah kasus DBD sepanjang semester pertama 2025 telah menembus angka seribu, dengan satu kasus meninggal dunia.
Bagi Damayanti, angka ini seharusnya cukup untuk menyadarkan semua pihak bahwa DBD bukan sekadar fenomena musiman, melainkan persoalan serius yang menuntut pola pencegahan yang berkelanjutan.
“DBD ini bukan penyakit baru, tapi setiap tahun kita seperti tidak belajar. Saat musim hujan datang, baru panik. Padahal pola kejadiannya berulang dan bisa dipetakan,” ujar Damayanti, Sabtu (28/6/25).
Sebagai wakil rakyat dari Fraksi PKB, Damayanti mendorong Dinas Kesehatan untuk tidak hanya mengandalkan penanganan saat kasus melonjak, tetapi juga menyiapkan strategi edukasi dan pencegahan sejak jauh hari.
Ia menekankan pentingnya kampanye yang tidak bersifat insidental, tetapi menyasar perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan secara konsisten.
“Yang kita butuhkan bukan hanya fogging saat kasus naik, tapi perubahan pola pikir. Pencegahan itu mestinya menjadi kebiasaan, bukan sekadar reaksi,” tegasnya.
Namun Damayanti juga menggarisbawahi bahwa kesadaran kolektif warga merupakan fondasi utama dalam memutus rantai penyebaran nyamuk pembawa virus DBD. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian tanpa partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Lingkungan bersih itu tanggung jawab bersama. Pemerintah bisa menyemprot nyamuk, tapi kalau rumah dan halaman tidak terurus, percuma. Ini soal kemauan bersama,” tambahnya.
Ia kembali menekankan pentingnya penguatan Gerakan 3M Plus menguras, menutup, dan mendaur ulang yang menurutnya harus dijadikan bagian dari budaya hidup sehari-hari, bukan hanya jargon saat wabah meningkat.
Menurut Damayanti, lonjakan kasus DBD tahun ini seharusnya menjadi peringatan keras agar semua pihak segera berbenah dan mulai membangun sistem pencegahan yang melibatkan komunitas secara aktif.
“Setiap tahun kita menghadapi siklus yang sama, tapi kesiapannya selalu lambat. Kita tidak bisa terus seperti ini. Keselamatan warga ada di tangan kita semua,” pungkasnya.(ADV)










Users Today : 372
Users Yesterday : 537
Views Today : 711
Total views : 449113
Who's Online : 2
