Eksistensi.id.KUKAR.Fenomena anak-anak berdandan seperti badut dan berkeliaran di jalanan hingga larut malam kembali menjadi sorotan. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan, praktik tersebut bukan sekadar aktivitas mencari nafkah, melainkan bentuk eksploitasi yang merampas hak anak.
Plt Kepala DP3A Kukar, Hero Suprayitno, menilai fenomena ini tak bisa dipandang sebelah mata. Ia menolak anggapan bahwa anak-anak turun ke jalan semata karena tekanan ekonomi keluarga.
“Anak-anak ini korban eksploitasi. Mereka tampak bekerja, tapi sesungguhnya dimanfaatkan oleh orang dewasa demi kepentingan ekonomi. Penanganan tak boleh berhenti di permukaan,” ujarnya, Senin (18/8/2025).
Menurut Hero, penanganan kasus eksploitasi anak tidak cukup dengan razia atau pembinaan singkat. Diperlukan pendekatan holistik lintas sektor untuk menghentikan pola eksploitasi yang terus berulang.
“Eksploitasi anak membutuhkan intervensi komprehensif, bukan sekadar penertiban sesaat. Negara harus hadir penuh melindungi mereka,” tegasnya.
DP3A Kukar, lanjutnya, telah mengerahkan Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Anak untuk memberikan pendampingan lanjutan bagi anak-anak yang diamankan. Upaya tersebut mencakup konseling, asesmen sosial, advokasi, hingga fasilitasi pendidikan.
“Pendekatan ini akan dijalankan bersama lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial. Harapan kami, anak-anak tidak hanya lepas dari jalanan, tapi juga mendapatkan pemulihan yang layak,” jelasnya.
Hero menambahkan, munculnya kembali pola eksploitasi ini menjadi peringatan serius agar semua pihak lebih waspada. Perlindungan anak, menurutnya, bukan semata tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat dan keluarga.
“Rumah semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak. Jika rumah sudah tak lagi aman, negara tidak boleh berhenti pada formalitas hukum, melainkan wajib memastikan perlindungan yang nyata,” pungkasnya.(adv)