Eksistensi.id, Samarinda– Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada faktor lain yang sangat krusial, yakni kompetensi guru dan fasilitas pendukung di sekolah.
Latisi mengatakan bahwa kebijakan pendidikan dari Kementerian Pendidikan harus memprioritaskan peningkatan mutu secara menyeluruh, yang mencakup peningkatan keterampilan guru dan ketersediaan sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran.
“Yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan, termasuk memperbaiki kompetensi guru serta menyediakan fasilitas yang memadai agar proses belajar mengajar lebih efektif,” ujar Ismail.
Namun, Latisi juga menyoroti permasalahan besar dalam peningkatan kompetensi guru, yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka.
Menurutnya, gaji guru yang belum memadai menjadi salah satu isu utama yang perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa gaji guru adalah masalah besar yang harus segera diatasi. Jika kesejahteraan guru tidak diperhatikan, dampaknya pasti akan terasa pada kualitas pembelajaran,” jelasnya.
Latisi memberi contoh, banyak guru yang terpaksa mengajar di dua sekolah untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Meski banyak yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi, ia menekankan bahwa masalah kesejahteraan tetap berpengaruh pada semangat dan kualitas pengajaran mereka.
Selain itu, Latisi juga menyinggung kebijakan insentif dan Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang diberikan oleh Pemkot Samarinda. Ia berharap insentif tersebut, terutama untuk guru non-ASN dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan.
“Saya berharap pemerintah kota bisa mempertahankan dan meningkatkan insentif bagi guru, khususnya yang non-ASN dan PPPK. Dengan kesejahteraan yang lebih baik, guru akan datang ke sekolah dengan semangat yang lebih tinggi dan memberikan pengajaran yang lebih maksimal,”jelasnya.
Latisi menegaskan bahwa kebahagiaan guru sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar. Ketika guru merasa dihargai dan sejahtera, maka mereka akan lebih fokus dan termotivasi dalam mengajar, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa.(adv/dita)