Eksistensi.id, Samarinda – Pesta budaya bertajuk East Borneo International Folklore Festival (EBIFF) 2025 resmi dibuka melalui Kirab Budaya Internasional yang digelar di jantung Kota Samarinda.
Sebanyak 400 peserta dari enam negara dan lima provinsi di Indonesia ambil bagian dalam kirab yang dimulai dari Simpang Taman Samarendah hingga Halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim).
Kemeriahan mewarnai jalanan. Ribuan warga berjejer di sisi trotoar, menyaksikan ragam atraksi budaya dari dalam dan luar negeri. Iringan musik, tarian khas, hingga kostum tradisional seperti Tari Hudok dan Reog Ponorogo menyedot perhatian publik.
Di tengah semarak perayaan, Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ekti Immanuel, menegaskan dukungan lembaganya terhadap penyelenggaraan EBIFF.
Ia menilai festival ini memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya daerah ke tingkat global.
“DPRD Kaltim tentu sangat mendukung kegiatan pemerintah seperti EBIFF ini. Karena ini bukan hanya soal seni dan budaya, tapi juga pintu promosi wisata kita ke dunia internasional,” ujar Ekti.
Menurutnya, penyelenggaraan festival dengan partisipasi internasional seperti ini tidak hanya mempererat hubungan antarbudaya, tapi juga menjadi jembatan promosi pariwisata yang efektif bagi Kalimantan Timur.
Ekti mengapresiasi konsistensi pemerintah provinsi dalam menjadikan EBIFF sebagai agenda tahunan berskala global.
Ia menyebut, ruang perjumpaan budaya yang diciptakan dalam festival ini menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring internasional dan memperlihatkan potensi seni lokal ke mata dunia.
“Ini sangat positif. Dengan adanya peserta dari Eropa, Sulawesi, Jawa, hingga Sumatera, maka Kalimantan Timur juga bisa lebih mengenal budaya mereka, dan sebaliknya, mereka juga mengenal budaya kita,” katanya.
Ekti juga menyampaikan kekagumannya terhadap salah satu penampilan yang menurutnya sangat kuat secara visual dan emosional, yakni Reog Ponorogo.
Ia mengaku baru kali ini menyaksikan langsung setelah sebelumnya hanya melihat dari media sosial.
“Yang paling saya senang tadi Reog Ponorogo. Luar biasa. Saya biasanya hanya lihat di media, tapi hari ini saya lihat langsung. Budaya seperti itu sangat kuat, butuh fisik, dan itu menunjukkan kekayaan tradisi kita,” ucapnya.
Lebih jauh, ia berharap EBIFF tidak hanya bertahan sebagai ajang seremonial tahunan, tetapi mampu berkembang sebagai motor penggerak ekosistem seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif daerah.
Ia menegaskan, DPRD siap memberikan dukungan politik dan anggaran agar event ini terus tumbuh dan masuk dalam radar budaya nasional bahkan internasional.
“Festival seperti ini bukan hanya tontonan, tapi juga investasi budaya. Kita harap ke depan semakin besar, dan menjadi bagian dari kalender budaya nasional dan internasional,” tuturnya.
Rangkaian EBIFF 2025 akan berlangsung hingga 29 Juli mendatang. Sejumlah agenda seperti pertunjukan tari lintas negara, pameran kriya dan kuliner, diskusi budaya, serta kunjungan peserta mancanegara ke sekolah dan sentra budaya lokal turut menjadi bagian dari festival yang membawa semangat lintas budaya ini.(ADV)