Eksistensi.id, Samarinda — Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Makmur HAPK, menegaskan bahwa Jembatan Nibung bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan gerbang strategis menuju transformasi kawasan pesisir Berau.
Menurutnya, keberadaan jembatan ini sangat mendesak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, mempercepat konektivitas, serta membuka potensi pariwisata unggulan.
“Selama ini masyarakat masih mengandalkan kapal feri yang lamban dan kurang efisien. Kita butuh jembatan itu selesai tahun ini agar aktivitas ekonomi bisa bergerak lebih cepat,” ujar Makmur, Kamis (26/6/25).
Ia menyebut Jembatan Nibung akan menjadi titik vital dalam mempercepat mobilitas barang, jasa, dan manusia—yang pada akhirnya berdampak langsung pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, kawasan pesisir seperti Pulau Derawan dan Biduk-Biduk menyimpan potensi wisata kelas dunia yang belum tergarap maksimal karena kendala akses. Ia meyakini, dengan terbukanya jalur darat, sektor pariwisata dan UMKM bisa berkembang secara signifikan.
“Akses yang mudah akan menarik wisatawan datang. Itu akan menciptakan lapangan kerja, menghidupkan jasa, dan menggerakkan UMKM lokal. Ini bukan pengeluaran, tapi investasi masa depan,” tegasnya.
Meski demikian, Makmur menekankan bahwa perhatian tidak boleh hanya terfokus di pesisir. Ia mengingatkan pentingnya mendorong pembangunan wilayah pedalaman yang selama ini cenderung tertinggal dalam peta pembangunan provinsi.
“Kita harus menyeimbangkan. Jangan biarkan pedalaman terus jadi penonton. Mereka juga butuh jalan yang layak, air bersih, dan lingkungan yang sehat,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menyambut geliat pariwisata. Menurutnya, kebersihan dan penataan kawasan wisata adalah bagian penting dalam menciptakan daya tarik berkelanjutan.
“Kalau lingkungannya bersih dan tertata, wisatawan pasti nyaman dan betah. Kita semua punya peran dalam membangun citra Berau,” tuturnya.
Makmur berharap, pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata tidak hanya berjalan berdampingan, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga alam, budaya, dan identitas lokal.
“Kami menargetkan Berau bisa menjadi model pembangunan berbasis lingkungan yang menginspirasi wilayah lain di Kalimantan Timur,” tandasnya.(ADV)