teks : tanaman rosea di Desa Kota Bangun III
Eksistensi.id.Kukar – Ketahanan pangan di Desa Kota Bangun III tidak lagi hanya bertumpu pada sawah dan padi. Pemerintah desa mendorong pola baru yang lahir dari kreativitas generasi muda dan peran aktif perempuan, melalui pertanian hidroponik dan budidaya rosella yang kini berkembang menjadi ikon lokal.
Kepala Desa Kota Bangun III, Lilik Hendrawanto, menegaskan bahwa konsep ketahanan pangan harus dipahami secara luas, tidak semata dari sektor pertanian konvensional.
“Setiap desa punya potensi yang berbeda-beda. Di Kota Bangun III, anak-anak muda kami sekarang sedang semangat-semangatnya menanam tanaman hidroponik seperti pakcoy, sawi, dan gul. Mereka tergabung dalam kelompok Agro Grain Mandiri, dan saya sangat bangga dengan semangat mereka,” ujarnya, pada Selasa (23/9/2025).
Kelompok Agro Grain Mandiri menjadi motor penggerak pertanian modern di desa ini. Dengan mengadopsi sistem hidroponik, mereka membangun pola pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menjawab tantangan ketersediaan pangan di masa depan.
Dukungan juga datang dari pemerintah desa dan pihak swasta. PT Gunung Bayan Pratama memberikan bantuan yang memperkuat gerakan anak-anak muda tersebut.
“Dengan adanya support dari PT Gunung Bayan Pratama, semangat mereka makin tinggi. Kita berharap, kelompok-kelompok seperti Agro Grain Mandiri bisa terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya,” tambah Lilik.
Selain generasi muda, pemberdayaan perempuan juga menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan pangan desa. Kelompok Wanita Tani (KWT) Kota Bangun III kini fokus mengembangkan tanaman rosella, herbal berwarna merah cerah yang mulai dikenal luas karena manfaat kesehatan dan nilai ekonominya.
Rosella telah diproduksi menjadi berbagai olahan, mulai dari teh, sirup, hingga manisan. Produk tersebut dipasarkan sebagai oleh-oleh khas desa, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Produk rosella ini sekarang sudah dikenal sebagai souvenir. Selain manfaat kesehatannya yang banyak, rosella juga punya nilai ekonomi yang tinggi,” jelas Lilik.
Selain itu, Pemerintah desa terus melakukan pendampingan bagi KWT, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga memperluas jaringan pemasaran. Upaya ini diarahkan agar rosella benar-benar menjadi identitas lokal Kota Bangun III yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Dengan hidroponik dari anak-anak muda dan rosella dari ibu-ibu, kita ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa lahir dari potensi lokal yang dikelola bersama,” tandasnya.(adv )








Users Today : 316
Users Yesterday : 493
Views Today : 604
Total views : 422260
Who's Online : 4
