Eksistensi.id, Samarinda – Peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Samarinda tidak hanya dimaknai sebagai ajang seremonial, tetapi juga refleksi atas tantangan sosial yang masih terjadi.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menekankan pentingnya perlindungan perempuan dan anak yang hingga kini masih rawan menjadi korban kekerasan.
Menurut Novan, pencegahan kekerasan tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja. Butuh sinergi antara pemerintah, DPRD, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, hingga lingkungan keluarga.
“Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak harus jadi perhatian bersama. Tidak cukup hanya pemerintah atau DPRD, tapi semua stakeholder harus terlibat,” tegasnya, Minggu (17/8/2025).
Ia menilai keterlibatan masyarakat sangat krusial. Pengawasan di lingkungan sekitar, kepedulian sosial, dan partisipasi aktif warga dinilai mampu menekan angka kekerasan.
“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Kalau lingkungan peduli, risiko kekerasan bisa ditekan,” ujarnya.
Momentum kemerdekaan kali ini, lanjut Novan, harus dijadikan titik balik untuk memperkuat pendidikan ketahanan keluarga, terutama bagi keluarga muda. Dengan fondasi keluarga yang kuat, diharapkan perempuan dan anak terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.
“Ketahanan keluarga itu fondasi utama. Kalau keluarga kuat, maka perempuan dan anak akan terlindungi. Sosialisasi harus terus dilakukan agar kesadaran ini tumbuh di semua kalangan,” jelasnya.
Novan menegaskan, peringatan kemerdekaan hendaknya tidak hanya dipahami sebagai perayaan simbolis, tetapi juga sebagai pengingat bahwa perjuangan bangsa di masa kini adalah memastikan seluruh warga, khususnya kelompok rentan, dapat hidup aman dan bermartabat.(ADV)