Eksistensi.id, Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai pelaksanaan Sekolah Rakyat tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik.
Menurutnya, keberhasilan program juga sangat ditentukan oleh pengawasan yang memadai, terutama bagi siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Anak-anak usia SD belum bisa sepenuhnya mandiri. Orang tua harus terlibat aktif dalam menjaga, memberikan asupan gizi, dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” ujar Sri Puji.
Ia menegaskan, meskipun konsep Sekolah Rakyat dirancang untuk jenjang SD hingga SMA, kelompok usia paling kecil membutuhkan perhatian lebih ketat. Hal ini tidak hanya terkait pembelajaran, tetapi juga kesiapan mental mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
“Kalau sejak SD mereka dibina dengan baik, maka ketika masuk SMP hingga SMA, anak-anak sudah lebih siap dan berkarakter kuat,” tambahnya.
Sri Puji juga menyoroti perlunya tenaga pendamping atau pengasuh dengan jumlah yang memadai. Rasio pengasuh terhadap siswa, menurutnya, harus lebih rendah untuk jenjang SD agar anak-anak mendapatkan perhatian maksimal.
“Kalau biasanya satu pengasuh menangani sepuluh anak, di usia SD sebaiknya jumlah itu dikurangi. Karena mereka masih membutuhkan bimbingan intensif,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun keseimbangan antara kecerdasan akademik dan pembentukan karakter. Dengan begitu, siswa Sekolah Rakyat tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku yang baik sehingga terhindar dari pengaruh lingkungan yang negatif.
“Harapannya, anak-anak tumbuh sebagai generasi yang berilmu sekaligus berkarakter. Itu yang menjadi outcome utama dari pendidikan kita,” pungkasnya.(ADV)