Eksistensi.id, Samarinda — Pemerataan akses layanan kesehatan dasar bagi anak-anak di wilayah pedalaman menjadi sorotan serius Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Damayanti.
Ia menilai, upaya menurunkan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi nutrisi, melainkan harus ditopang oleh sistem pelayanan kesehatan yang merata hingga ke tingkat akar rumput.
Menurutnya, salah satu titik lemah dalam penanganan stunting di Kaltim adalah rendahnya frekuensi kunjungan ke posyandu oleh masyarakat, terutama di daerah yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan.
“Masih banyak anak-anak di desa yang belum rutin dipantau tumbuh kembangnya. Padahal, deteksi dini melalui posyandu adalah kunci mencegah stunting sejak awal,” ujar Damayanti, Selasa (22/7/25).
Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif masyarakat, khususnya orang tua, sangat menentukan keberhasilan program pencegahan stunting.
Selain itu, edukasi tentang pentingnya pemeriksaan rutin di posyandu juga harus diperluas, termasuk dengan melibatkan perangkat desa dan kader kesehatan.
Damayanti menyebut, meski prevalensi stunting di Kaltim sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir, disparitas antarwilayah masih menjadi kendala yang belum terselesaikan.
“Kalau kita ingin mencapai target nasional penurunan stunting 14 persen pada 2025, maka layanan kesehatan tidak boleh hanya terpusat di kota. Daerah terpencil juga harus mendapat porsi perhatian yang sama,” tegasnya.
Pihaknya di DPRD Kaltim, lanjut Damayanti, berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan anggaran yang berpihak pada program kesehatan masyarakat.
Ia menilai, memperkuat infrastruktur dan pelayanan kesehatan anak adalah langkah strategis dalam membangun generasi masa depan yang lebih sehat dan tangguh.(ADV)








Users Today : 382
Users Yesterday : 660
Views Today : 851
Total views : 474341
Who's Online : 2
