Eksistensi.Id, KUTIM – Penanganan anak berisiko stunting di Kecamatan Sangatta Utara tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi. Pemerintah kecamatan juga melibatkan orang tua melalui edukasi pola asuh, pemberian makanan, hingga pendampingan aktivitas anak dalam program Rumah Rehabilitasi Gizi (RRG).
Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, mengatakan sekitar 540 anak tercatat masuk kategori berisiko stunting. Dari jumlah tersebut, sebanyak 138 anak berusia 0 hingga 24 bulan menjalani skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan dan pertumbuhannya.
“Dari 138 anak itu kita melakukan screening. Anak berisiko belum tentu dia betul-betul stunting, karena bisa ada penyakit penyerta di dalamnya,” kata Hasdiah, Sabtu (19/9/26).
Skrining tersebut menjadi tahapan penting sebelum anak mendapatkan penanganan melalui RRG. Anak yang mengalami persoalan pertumbuhan maupun kekurangan gizi dapat mengikuti intervensi, sedangkan anak yang memiliki penyakit penyerta diarahkan ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika diperlukan, penanganan kemudian dilanjutkan melalui rujukan ke rumah sakit.
Dalam pelaksanaan RRG, anak tidak hanya mendapatkan makanan tambahan (PMT). Program juga melibatkan dokter spesialis anak, dokter spesialis gizi, psikolog, tim gizi puskesmas, bidan, serta kader.
Intervensi pemberian PMT dilakukan selama 56 hari. Selama periode tersebut, kondisi anak dipantau secara berkala, termasuk melalui pemeriksaan dokter spesialis setiap 14 hari.
Di sisi lain, orang tua juga menjadi bagian dari intervensi. Mereka diberikan pembekalan mengenai pola asuh, cara mendampingi anak bermain, serta pemberian makanan sesuai kebutuhan anak.
“Di RRG itu selain pemberian PMT kepada anak, juga bagaimana mendampingi anak-anak bermain, bagaimana memberi makan anak. Ada kelas khusus untuk orang tua,” jelas Hasdiah.
Menurut Hasdiah, edukasi tersebut diperlukan karena persoalan yang ditemukan pada anak berisiko stunting tidak selalu berkaitan dengan asupan makanan. Pola pengasuhan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses pendampingan.
Setelah menjalani rangkaian intervensi, kondisi anak kembali dievaluasi. Apabila perkembangan belum sesuai yang diharapkan, pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Hasdiah mengatakan pihaknya belum dapat menyebut program RRG telah menurunkan angka stunting secara keseluruhan. Pengukuran tersebut masih membutuhkan data yang dapat membandingkan perubahan jumlah kasus.
Namun, dari anak yang telah mengikuti intervensi, perubahan kondisi kesehatan mulai terlihat.
“Kalau penurunan kita belum bisa mengatakan ada penurunan, tapi perubahan dari tingkat kesehatan anak itu kelihatan jelas ada perubahan,” katanya.
Program RRG di Sangatta Utara dengan demikian diarahkan tidak hanya untuk memperbaiki kondisi gizi anak, tetapi juga memperkuat pemahaman keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak setelah menjalani intervensi.(Adv/Kutim/Nurfa)








Users Today : 138
Users Yesterday : 161
Views Today : 283
Total views : 624716
Who's Online : 3
