Eksistensi.id, Samarinda – Rencana penerapan materi pembelajaran koding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sekolah-sekolah mendapat perhatian DPRD Samarinda. Penguatan literasi teknologi dinilai penting, namun pelaksanaannya diminta tidak dilakukan secara tergesa tanpa kesiapan sistem pendidikan.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Harminsyah, mengatakan pengenalan teknologi digital dalam dunia pendidikan merupakan langkah yang sejalan dengan perkembangan kebutuhan masa depan. Apalagi, wilayah perkotaan seperti Samarinda dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mengadopsi model pembelajaran berbasis teknologi.
Meski demikian, menurutnya penerapan kurikulum baru tidak cukup hanya berdasarkan tren perkembangan digital, tetapi harus dibangun melalui perencanaan yang jelas dan terukur.
“Kalau diterapkan di Samarinda tentu memungkinkan. Tetapi yang harus dipastikan adalah kesiapan pelaksanaannya, tujuan pembelajarannya, dan dampak yang ingin dicapai,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Pernyataan tersebut merespons kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mulai memperkenalkan pembelajaran koding dan AI pada tahun ajaran 2025/2026 sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Program tersebut dirancang untuk mulai dikenalkan sejak jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah agar peserta didik memiliki kemampuan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Harminsyah menilai materi seperti koding dan AI memang dapat menjadi sarana untuk melatih pola pikir siswa agar lebih sistematis, logis, dan terbiasa menyelesaikan persoalan secara terstruktur.
Namun ia mengingatkan, manfaat tersebut hanya dapat dicapai apabila sekolah memiliki kesiapan yang memadai.
Menurutnya, sejumlah aspek perlu menjadi perhatian sebelum kebijakan dijalankan secara luas, mulai dari kesiapan guru, ketersediaan perangkat pendukung, hingga metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa.
Ia tidak ingin kurikulum berbasis teknologi hanya menjadi tambahan materi tanpa menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran.
“Jangan sampai program ini hanya menjadi formalitas atau sekadar mengikuti perkembangan. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa benar-benar mendapatkan manfaat dari materi yang diberikan,” katanya.
Selain itu, Harminsyah menilai pemerintah juga perlu melakukan evaluasi secara berkala apabila program mulai diterapkan agar pelaksanaan di lapangan dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Ia menegaskan bahwa transformasi pendidikan berbasis teknologi harus tetap memperhatikan kondisi riil masing-masing sekolah.
“Teknologi memang menjadi kebutuhan ke depan, tetapi penerapannya juga harus realistis dan didukung kesiapan di lapangan agar hasilnya benar-benar optimal,” pungkasnya.(adv/Fara)








Users Today : 1631
Users Yesterday : 425
Views Today : 1863
Total views : 551068
Who's Online : 2
