Eksistensi.Id, KUTIM – Bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta penderita gangguan pernapasan dan kardiovaskular menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus saat kualitas udara memburuk.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengingatkan pentingnya perlindungan kesehatan di tengah potensi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan langkah perlindungan perlu mempertimbangkan perubahan kualitas udara. Kondisi yang sempat membaik belum tentu bertahan apabila asap kebakaran kembali meningkat.
“Kalau beberapa hari sempat hujan, kemudian kualitas udara kita pantau dan aman, tetapi tiga hari kemudian memburuk lagi karena banyak asap, artinya perlindungan tetap harus diberlakukan, khususnya bagi usia rentan,” ujar Yuwana, Sabtu (10/10/26).
Ia menyebutkan, kelompok yang memerlukan perhatian khusus meliputi bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, serta lansia. Masyarakat dengan gangguan pada saluran pernapasan maupun sistem kardiovaskular juga perlu mewaspadai paparan polusi udara karena kondisi tersebut berpotensi memperburuk masalah kesehatan.
Menurut Yuwana, kualitas udara dapat berubah dalam waktu relatif singkat mengikuti kondisi cuaca dan peningkatan asap. Hujan yang membantu memperbaiki kualitas udara tidak menjamin kondisi tersebut akan tetap baik apabila kebakaran lahan kembali menghasilkan asap.
Karena itu, upaya perlindungan perlu mengikuti perkembangan kualitas udara, bukan hanya mengacu pada kondisi saat pemantauan sebelumnya menunjukkan hasil yang lebih baik. Langkah tersebut penting agar kelompok yang lebih rentan tidak luput dari perhatian ketika pencemaran meningkat.
Yuwana juga menjelaskan bahwa kualitas udara memiliki sejumlah kategori yang menggambarkan tingkat pencemaran dan risiko kesehatannya. Semakin buruk kondisi udara, semakin besar kebutuhan untuk menyesuaikan langkah perlindungan berdasarkan hasil pemantauan.
Dinkes Kutim mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi udara, terutama ketika asap karhutla kembali meningkat.
“Kewaspadaan terhadap kelompok rentan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kesehatan selama pencemaran udara masih berpotensi terjadi,” tandasnya.(adv/Kutim/Nurfa)









Users Today : 6
Users Yesterday : 411
Views Today : 71
Total views : 645732
Who's Online : 1
