Eksistensi.Id, KUTIM – Pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berangkat dari inisiatif para senior di lingkungan majelis dan pemangku adat. Gagasan tersebut kemudian diakomodasi pemerintah daerah sehingga penyelenggaraannya menjadi bentuk kolaborasi antara unsur adat dan pemerintah.
Ketua Panitia Erau Adat Pelas Benua, Trisno, yang juga menjabat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutim, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari dorongan kalangan adat.
“Ini adalah inisiasi dari senior-senior kita di majelis dan pemangku yang diakomodir oleh pemerintah daerah sehingga ini kolaboratif,” ujar Trisno, Minggu (11/10/2026).
Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan kegiatan tidak semata-mata berasal dari program pemerintah. Inisiatif para pemangku adat menjadi titik awal, sementara dukungan pemerintah daerah membantu mengakomodasi penyelenggaraan.
Kolaborasi ini menempatkan unsur adat sebagai bagian penting dalam menjaga tradisi yang dijalankan.
“Di sisi lain, pemerintah daerah turut mendukung agar kegiatan dapat berlangsung melalui kerja sama antarpihak,” jelasnya.
Pola tersebut juga menunjukkan pentingnya komunikasi antara pemangku adat dan pemerintah dalam penyelenggaraan kegiatan budaya.
“Tradisi yang hidup di tengah masyarakat membutuhkan keterlibatan pihak-pihak yang memahami nilai serta tata cara pelaksanaannya,” ungkapnya.
Bagi penyelenggara, kerja sama tersebut menjadi unsur penting dalam pelaksanaan Erau. Keberadaan dukungan pemerintah dan inisiatif kalangan adat mempertemukan dua peran yang saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan kegiatan budaya di Kutim.(adv/Kutim/Nurfa)









Users Today : 400
Users Yesterday : 469
Views Today : 1625
Total views : 645589
Who's Online : 1
