Eksistensi.Id, KUTIM – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tercatat meningkat sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kenaikan paling terlihat pada periode terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya pada Mei lalu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kondisi kemarau dan munculnya karhutla di sejumlah wilayah.
“Dari data Januari sampai Agustus memang ada peningkatan. Terutama di bulan Mei, saat terjadi karhutla, ISPA juga meningkat cukup tinggi,” kata Yuwana, Kamis (17/9/26).
Meski demikian, Dinkes Kutim belum menyimpulkan bahwa peningkatan ISPA sepenuhnya disebabkan asap karhutla.
Menurut Yuwana, ISPA merupakan penyakit yang cukup umum sehingga diperlukan pengolahan dan analisis data lebih rinci untuk mengetahui faktor yang memengaruhinya.
Hal serupa berlaku apabila peningkatan kasus hendak dikaitkan dengan aktivitas pertambangan maupun faktor lingkungan lainnya. Dinkes perlu melihat data secara lebih mendalam sebelum menarik kesimpulan mengenai hubungan tersebut.
“Kalau mau melihat apakah ada kaitannya dengan pertambangan atau faktor lain, itu harus dianalisis dulu datanya,” tegasnya.
Selain ISPA, kondisi kemarau dan paparan asap juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat dalam bentuk gangguan lain. Yuwana menyebut cuaca panas dan perubahan kondisi lingkungan dapat meningkatkan risiko dehidrasi hingga diare.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, Dinkes Kutim telah menerbitkan surat edaran pada 31 Agustus 2026. Kesiapan tersebut dilakukan dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai wilayah, terutama untuk menghadapi penyakit yang sensitif terhadap perubahan kondisi iklim.
Dinkes juga menyiapkan dukungan berupa masker bagi masyarakat serta vitamin bagi petugas yang bertugas di lapangan. Kebutuhan masker dari masing-masing kecamatan telah dihimpun agar distribusinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah.
“Untuk kebutuhan masker sudah kami rekap dari kecamatan. Bisa melalui puskesmas atau langsung ke Dinas Kesehatan untuk kebutuhan di tingkat kabupaten,” ujarnya.
Sementara itu, terkait wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, Yuwana mengatakan pihaknya masih membutuhkan pengolahan data lebih lanjut. Data tersebut diperlukan untuk melihat pola peningkatan kasus sekaligus mengetahui faktor yang kemungkinan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
Dinkes Kutim mengimbau masyarakat tidak mengabaikan keluhan seperti sesak napas maupun gangguan pernapasan lainnya, terutama ketika kondisi udara memburuk akibat asap dan kemarau. Pemeriksaan sejak awal di fasilitas kesehatan dinilai penting agar keluhan dapat segera ditangani.(adv/Kutim/Nurfa)










Users Today : 167
Users Yesterday : 255
Views Today : 288
Total views : 625236
Who's Online : 1
