Eksistensi.Id, KUTIM – Penggunaan bibit kelapa sawit yang tidak berkualitas berisiko menekan produktivitas kebun dan merugikan petani dalam jangka panjang. Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyoroti pentingnya pemilihan bibit bersertifikat karena dampaknya baru terlihat ketika tanaman memasuki masa produktif.
Kepala BRIDA Kutim, Juliansyah, menjelaskan bahwa pemilihan bibit merupakan bagian penting dari perencanaan investasi perkebunan. Petani tidak cukup hanya menghitung harga pembelian, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya pemeliharaan dan potensi hasil panen selama bertahun-tahun.
“Pemeliharaannya lima sampai sepuluh tahun itu besar biayanya. Setelah ditanam, baru sekitar lima tahun kita melihat hasilnya,” ujar Juliansyah, Kamis (15/10/26).
Dalam kajian BRIDA, kualitas bibit menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman sepanjang siklus ekonominya. Kelapa sawit dapat memiliki siklus ekonomi sekitar 25 hingga 30 tahun sehingga kesalahan dalam memilih bibit berpotensi membawa dampak terhadap hasil kebun dalam waktu panjang.
BRIDA juga menyoroti risiko penggunaan bibit ilegal atau tidak bersertifikat secara masif yang berpotensi menurunkan produksi hingga 30–40 persen. Selain produktivitas yang lebih rendah, tanaman dari bibit tidak berkualitas disebut lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Menurut Juliansyah, kondisi tersebut dapat membuat biaya pemeliharaan yang dikeluarkan petani tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
“Kalau bibitnya tidak bagus, nanti hasilnya sedikit. Sementara pupuk dan pemeliharaan tetap harus dikeluarkan,” jelasnya.
Karena itu, BRIDA Kutim menekankan pentingnya memastikan kualitas dan legalitas bibit sebelum penanaman. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kerugian sekaligus menjaga produktivitas perkebunan sawit dalam jangka panjang.(adv/Kutim/Nurfa)









Users Today : 633
Users Yesterday : 1327
Views Today : 781
Total views : 665775
Who's Online : 7
