Eksistensi.id, KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan pengembangan pendidikan vokasi perkebunan kelapa sawit melalui Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim bersama Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta. Program Diploma Satu (D1) dengan masa pendidikan satu tahun tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027 untuk menyiapkan tenaga kerja lokal sesuai kebutuhan industri perkebunan.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan rencana kolaborasi kedua perguruan tinggi itu menjadi salah satu upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di daerah. Pendidikan yang berorientasi pada keterampilan praktis diharapkan membuka jalur bagi generasi muda untuk memperoleh kompetensi yang dibutuhkan perusahaan perkebunan.
“Insyaallah tahun depan STIPER dan INSTIPER Jogja sudah melakukan kerja sama,” kata Ardiansyah, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan pendidikan khusus tersebut berkaitan dengan kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor kelapa sawit. Pemerintah daerah ingin memperbesar kesempatan putra-putri Kutim untuk mengisi kebutuhan pekerjaan di industri yang berkembang di wilayah mereka sendiri.
“Kita ingin anak-anak muda Kutai Timur memiliki kompetensi, memiliki kesempatan, dan memiliki masa depan di daerahnya sendiri,” ujarnya.
Menurut Ardiansyah, kesiapan tenaga kerja lokal perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton pertumbuhan industri perkebunan. Pendidikan vokasi menjadi salah satu jalur untuk membekali calon tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Keterampilan tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar masyarakat Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan,” tegasnya.
Selain pengembangan program pendidikan, fasilitas penunjang mahasiswa juga menjadi perhatian. STIPER Kutim telah memiliki asrama di sekitar kampus yang dibangun melalui sumbangan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membantu mahasiswa, khususnya yang berasal dari luar Sangatta, dalam mengikuti kegiatan pendidikan.
Ardiansyah menempatkan peningkatan kompetensi tenaga kerja sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan sektor usaha perlu diikuti kesempatan kerja yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja harus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, arah pembangunan Kutim pada 2026–2027 juga mencakup peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penurunan kemiskinan dan pengangguran, serta pengurangan kesenjangan. Dalam konteks tersebut, pengembangan pendidikan vokasi diharapkan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kesempatan kerja.
“Melalui rencana kerja sama STIPER Kutim dan INSTIPER Yogyakarta, pemerintah daerah berharap pendidikan vokasi dapat menjadi salah satu jalur untuk menyiapkan tenaga kerja lokal yang kompeten dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perekonomian daerah,” tandasnya(adv/Kutim/nurfa)









Users Today : 633
Users Yesterday : 1327
Views Today : 784
Total views : 665778
Who's Online : 4
