Eksistensi.id, Samarinda — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memastikan telah menyiapkan rencana rehabilitasi total kawasan Pasar Segiri pascakebakaran yang melanda area pertokoan dan lapak pedagang pada Maret 2026 lalu. Namun, realisasi pembangunan ulang pasar tradisional terbesar di Kota Tepian itu masih menunggu kondisi keuangan daerah kembali stabil di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Rencana tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar. Ia mengatakan, pihaknya ingin memastikan pembangunan yang dilakukan pemerintah benar-benar sesuai kebutuhan pedagang serta memiliki konsep penataan jangka panjang yang jelas.
Menurut Deni, dengan nilai anggaran pembangunan yang berkisar antara Rp1,1 miliar hingga Rp1,6 miliar, DPRD perlu melihat secara langsung bentuk dan kualitas bangunan yang akan dibangun sebelum memberikan penilaian lebih lanjut.
“Dengan anggaran Rp1,1 miliar hingga Rp1,6 miliar, Komisi III tentu ingin memastikan apakah nilai tersebut sepadan dengan struktur bangunan yang dibangun. Namun, untuk memastikan hal itu, kami perlu melihat langsung bentuk bangunannya seperti apa, kesesuaiannya bagaimana, dan yang paling utama adalah fungsinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, hal paling penting saat ini ialah memastikan para pedagang terdampak kebakaran dapat kembali beroperasi dengan layak. Selain itu, pemerintah juga diminta memikirkan konsep penataan Pasar Segiri secara menyeluruh agar tidak hanya bersifat sementara.
Deni menyebut Komisi III DPRD Samarinda berencana melakukan peninjauan langsung ke lokasi usai masa reses dan setelah aktivitas DPRD kembali normal pasca-Lebaran Iduladha, kemungkinan pada Juni mendatang.
“Mudah-mudahan setelah masa reses selesai, kemungkinan pada Juni nanti setelah kembali aktif pasca-Lebaran Iduladha, kami akan menjadwalkan peninjauan langsung ke lokasi. Sebab, kalau belum melihat secara langsung, kami juga belum bisa memastikan secara detail,” katanya.
Dari gambar yang beredar, lanjut Deni, bangunan sementara tersebut terlihat menggunakan material tralis atau baja ringan. Karena itu, pihaknya ingin memastikan apakah struktur tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pedagang dan fungsi pasar.
Meski demikian, DPRD tetap mengapresiasi langkah percepatan pembangunan yang dilakukan Pemkot Samarinda sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam membantu pedagang korban kebakaran.
“Pada prinsipnya, kami mengapresiasi langkah Pemerintah Kota yang melakukan percepatan pembangunan demi memenuhi kebutuhan pedagang terdampak kebakaran. Kehadiran pemerintah di sini penting, terutama dengan memberikan tempat yang layak agar pedagang bisa kembali beroperasi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Deni menilai penataan pasar di Samarinda harus memiliki konsep yang terintegrasi agar fungsi masing-masing pasar menjadi lebih jelas. Ia mencontohkan Pasar Pagi dapat difokuskan untuk sektor konveksi dan emas, sementara aktivitas pasar basah dipusatkan di Pasar Segiri.
“Dengan begitu, masyarakat yang mencari kebutuhan seperti daging, ayam, dan kebutuhan basah lainnya akan langsung menuju Pasar Segiri. Sedangkan untuk kebutuhan konveksi, masyarakat datang ke Pasar Pagi,” jelasnya.
Menurutnya, pola penataan tersebut akan berdampak positif terhadap tata kelola pasar sekaligus menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di sejumlah kawasan pasar tradisional Samarinda.
Ia juga menekankan seluruh kebijakan pemerintah kota harus disusun melalui perencanaan yang matang, terukur, dan komprehensif agar tidak sekadar menjadi pembangunan sementara tanpa arah jangka panjang yang jelas.
“Yang paling penting, pemerintah kota harus tegas dan jelas terkait arah perencanaannya. Jangan sampai hanya membangun sementara tanpa ada konsep jangka panjang yang matang. Semua harus dituangkan dalam perencanaan detail agar legislatif juga bisa mengetahui dan nantinya memberikan masukan kepada pedagang maupun pemilik ruko di kawasan tersebut,” pungkasnya.(adv/NFD)









Users Today : 1
Users Yesterday : 849
Views Today : 3
Total views : 589215
Who's Online : 4
