Eksistensi.id, Samarinda — Rencana revitalisasi Pasar Segiri Samarinda hingga kini masih belum menemui kepastian di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menegaskan revitalisasi pasar tradisional terbesar di Kota Tepian itu tidak boleh sekadar berfokus pada pembangunan fisik, melainkan harus dibarengi konsep penataan yang matang, transparan, dan sesuai kebutuhan pedagang maupun masyarakat.
Menurut Deni, kondisi keuangan daerah saat ini membuat realisasi revitalisasi Pasar Segiri kemungkinan masih sulit dilaksanakan dalam waktu dekat.
Meski demikian, ia menilai peluang pembangunan ulang pasar tersebut tetap terbuka pada tahun-tahun berikutnya ketika kondisi anggaran mulai membaik.
“Kalau berbicara revitalisasi Pasar Segiri saat ini, di tengah situasi efisiensi anggaran, kemungkinan untuk tahun ini memang masih sulit direalisasikan. Namun, ke depan tetap ada kemungkinan,” ujarnya.
Ia mengatakan hingga saat ini DPRD Samarinda masih menunggu paparan resmi dari Pemerintah Kota Samarinda terkait konsep revitalisasi yang akan diterapkan di Pasar Segiri.
Menurutnya, DPRD perlu mengetahui arah penataan pasar tersebut, termasuk fungsi dan konsep yang akan digunakan nantinya.
“Sampai hari ini kami masih menunggu paparan resmi dari pemerintah kota terkait konsep revitalisasi tersebut. Apakah nantinya konsepnya sama seperti Pasar Pagi atau berbeda. Itu yang ingin kami ketahui terlebih dahulu, termasuk fungsi pasar ke depannya seperti apa,” katanya.
Deni menegaskan revitalisasi pasar tidak boleh hanya menjadi proyek pembangunan fisik semata tanpa adanya penataan yang jelas dan komunikasi yang baik dengan para pedagang.
Ia berharap konsep revitalisasi nantinya benar-benar mampu menghadirkan tata kelola pasar yang lebih tertata dan berfungsi maksimal.
“Karena revitalisasi bukan hanya soal membangun fisik semata, tetapi bagaimana melakukan penataan yang benar-benar lebih baik. Kami tidak ingin revitalisasi ini hanya menjadi simbol tanpa komunikasi yang baik dengan para pedagang,” tegasnya.
Ia juga menilai perencanaan revitalisasi Pasar Segiri hingga kini belum sepenuhnya matang. Kondisi efisiensi anggaran disebut menjadi salah satu alasan kemungkinan pembahasan perencanaan tersebut masih ditahan sementara.
“Untuk saat ini, perencanaan revitalisasi tersebut menurut kami juga belum sepenuhnya matang. Kami masih menunggu karena melihat kondisi efisiensi anggaran saat ini, kemungkinan perencanaannya masih ditahan terlebih dahulu,” ucapnya.
Menurut Deni, pembahasan revitalisasi secara rinci kemungkinan baru dapat dilakukan ketika kondisi keuangan daerah lebih stabil dan pembahasan anggaran tahun 2027 dimulai.
DPRD pun memastikan akan meminta penjelasan detail apabila nantinya usulan revitalisasi tersebut diajukan pemerintah kota.
“Mungkin ketika anggaran sudah tersedia pada tahun depan, rencana itu baru akan disampaikan lebih detail. Apalagi pembahasan anggaran 2027 juga belum dilakukan. Karena itu, jika nantinya ada usulan, kami tentu akan meminta penjelasan secara rinci terkait perencanaannya,” jelasnya.
Selain itu, DPRD Samarinda meminta seluruh proses revitalisasi dilakukan secara terbuka agar masyarakat dapat mengetahui konsep pembangunan, besaran anggaran, hingga target penyelesaian proyek tersebut. Transparansi dinilai penting agar publik dapat ikut mengawasi jalannya pembangunan.
“Kami ingin seluruh proses ini terbuka. Publik harus bisa mengetahui bagaimana konsep perencanaannya, berapa anggarannya, dan kapan target penyelesaiannya. Transparansi itu penting agar masyarakat bisa ikut mengawasi,” katanya.
Ia mengingatkan agar revitalisasi Pasar Segiri nantinya tidak hanya selesai secara pembangunan, tetapi juga benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pedagang dan masyarakat.
“Jangan sampai nanti proyek selesai tetapi justru tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal,” pungkasnya.(adv/NFD)









Users Today : 43
Users Yesterday : 849
Views Today : 51
Total views : 589263
Who's Online : 5
