Eksistensi.Id, SANGATTA – Prevalensi stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) turun menjadi 12,86 persen setelah Dinas Kesehatan menjalankan program Pelayanan Terpadu dan Serentak untuk Menuntaskan Stunting (PENTAS) Kutim.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan angka tersebut turun dari sekitar 16 persen sebelumnya. Capaian itu juga telah berada di bawah target nasional sebesar 14 persen.
Menurut Yuwana, salah satu langkah yang dilakukan melalui PENTAS Kutim ialah meningkatkan cakupan penimbangan balita secara serentak. Program tersebut diluncurkan pada Juli 2026 dengan melibatkan posyandu, puskesmas, fasilitas kesehatan hingga sekolah.
Data hasil penimbangan kemudian dihimpun melalui sistem terintegrasi secara daring untuk mendapatkan gambaran kondisi balita secara lebih menyeluruh.
“Pada 31 Agustus, kami sudah melakukan penarikan data yang terintegrasi online melalui sistem yang digunakan. Alhamdulillah, angka stunting kita turun cukup signifikan,” ujar Yuwana, Rabu (16/9/26).
Selain berdampak pada pencatatan data, pelaksanaan PENTAS juga diikuti peningkatan partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita. Sebelum program berjalan, tingkat partisipasi orang tua membawa anak untuk ditimbang berada di kisaran 34 persen.
Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 54,91 persen setelah pelaksanaan program.
Yuwana mengatakan penanganan stunting tidak hanya menyasar anak yang telah lahir. Intervensi juga diberikan kepada ibu hamil, terutama yang mengalami anemia maupun kekurangan energi kronis.
Kelompok tersebut menjadi perhatian karena kondisi ibu selama kehamilan berkaitan dengan risiko bayi mengalami stunting. Karena itu, pemantauan dilakukan sejak masa kehamilan hingga pertumbuhan anak.
“Intervensinya bukan hanya kepada anak, tetapi juga kita mulai dari ibu hamil yang anemia dan kekurangan energi kronis. Ini penting karena penanganan stunting harus dilakukan sejak masa kehamilan,” kata Yuwana.
Ia menambahkan, intervensi terhadap kelompok ibu hamil juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Pemantauan tersebut akan terus dilakukan bersamaan dengan pengawasan pertumbuhan anak.
Dengan prevalensi yang kini berada di angka 12,86 persen, Dinkes Kutim tetap mendorong pemantauan dan intervensi secara berkelanjutan agar capaian penurunan stunting dapat dipertahankan.(adv/Kutim/Nurfa)









Users Today : 130
Users Yesterday : 161
Views Today : 249
Total views : 624682
Who's Online : 2
